-->

manajemen keuangan 2 (financial distress)


ANALISIS PREDIKSI KEBANGKRUTAN PERUSAHAAN

Kebangkrutan adalah kesulitan keuangan yang sangat parah sehingga perusahaan tidak mampu untuk menjalankan operasi perusahaan dengan baik. Sedangkan kesulitan keuangan (financial distress) adalah kesulitan keuangan atau likuiditas yang mungkin sebagai awal kebangkrutan. Analisis kesulitan keuangan akan sangat membantu pembuat keputusan untuk menentukan sikap terhadap perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan. Hanafi (2010:638) menyatakan “Perusahaan dapat dikatakan bangkrut apabila perusahaan itu mengalami kesulitan yang ringan (seperti masalah likuiditas), dan sampai kesulitan yang lebih serius, yaitu solvabel (utang lebih besar dibandingkan dengan asset)”. Weston & Copeland (1997:510) menyebutkan bahwa kebangkrutan adalah suatu kegagalan yang terjadi dalam perusahaan, apabila perusahaan tersebut mengalami:
1.        Kegagalan Ekonomi (Economic Distressed)
Kegagalan dalam arti ekonomis bahwa pendapatan perusahaan tidak mampu lagi menutup biayanya, yang berarti bahwa tingkat labanya lebih kecil dari pada biaya modalnya.
2.        Kegagalan Keuangan (Financial Distressed)
Insolvensi memiliki dua bentuk yakni Default teknis yang terjadi bila suatu perusahaan gagal memenuhi salah satu atau lebih kondisi didalam ketentuan hutangnya, seperti rasio aktiva lancar dengan hutang lancar yang ditetapkan, serta kegagalan keuangan atau ketidak mampuan teknik (technical insolvency) yang terjadi apabila perusahaan tidak mampu memenuhi kewajibannya pada waktu yang telah ditentukan.
Lesmana dan Surjanto (2004:183-184) menyebutkan ada 2 hal penting yang mampu menunjukkan arah kebangkrutan perusahaaan, yaitu:
1.        Tanda-tanda yang dapat dilihat oleh perusahaan:
a.       Penjualan / pendapatan mengalami penurunan signifikan
b.      Penurunan laba atau arus kas operasi
c.       Penurunan total aktiva
d.      Harga pasar saham menurun signifikan
e.       Young company
f.       Pemotongan yang signifikan dalam deviden
2.        Diagnose dalam defisiensi keuangan dan operasional:
a.       Laba tidak stabil
b.      Tidak mampu memenuhi kewajiban jatuh tempo
c.       Sistem administrasi tidak efektif dan efisien
d.      Kualitas manajemen meragukan
e.       Ekspansi tidak sesuai bisnis inti
f.       Kegagalan manajemen dalam antisipasi perubahan pasar
g.      Ketidakmampuan mengendalikan biaya

Model prediksi kebangkrutan dikembangkan lagi oleh Altman untuk beberapa negara, dari penelitian tersebut ditemukan nilai Z yang baru untuk perusahaan yang go-public, dan ternyata metode Z-Score Altman memiliki tingkat kevalidan hingga 95%, dengan persamaan sebagai berikut:
Z = 1,2X1 + 1,4X2 + 3,3X3 + 0,6X4 + 0,999X5
Dengan keterangan sebagai berikut:
Z = over all index
X1 = working capital/total asset
X2 = retained earning/total asset
X3 = earning before interest and taxes/total asset
X4 = market value equity/book value of total liabilities
X5 = sales/total asset
Nilai cut-off :
Z < 1,81 bangkrut (perusahaan masuk dalam kategori bangkrut)
1,81 - 3  grey area (perusahaan masuk dalam kategori rawan)
Z > 3  tidak bangkrut (perusahaan masuk dalam kategori sehat)

Related Posts

There is no other posts in this category.

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter