BAB II
STUDI KEPUSTAKAAN
2.1 Landasan Teoritis
2.1.1 Bauran Pemasaran
Konsep bauran pemasaran dipopulerkan pertama kali oleh Mc. Charty yang merumuskannya menjadi 4P (Product, Price, Promotion dan Place). Dalam perkembangannya, sejumlah peneliti menunjukkan bahwa penerapan 4P terlampau terbatas/sempit untuk bisnis jasa karena beberapa alasan seperti bauran promosi dalam 4P tradisional dianggap mengabaikan masalah-masalah dalam mendefenisikan konsep kualitas pada intangible services, dan mengidentifikasi serta mengukur unsur-unsur bauran pemasaran yang dapat dikelola dalam rangka menciptakan jasa berkualitas, bauran pemasaran tradisional dianggap juga melupakan arti penting orang (people), baik sebagai produsen, konsumen, maupun co-customers dan lain-lain. Hasilnya, 4P tradisional diperluas dan ditambahkan dengan 4 unsur lainnya, yaitu People, Process, Physical Evidence, dan Customer Service.
Penjelasan bauran pemasaran jasa menurut Tjiptono (2005:31):
a. Product, produk merupakan bentuk penawaran organisasi jasa yang ditujukan untuk mencapai tujuan organisasi melalui pemuasan kebutuhan dan keinginan pelanggan. Keputusan bauran produk yang dihadapi pemasar jasa bisa sangat berbeda dengan yang dihadapi pemasar barang. b. Pricing, keputusan bauran harga berkenaan dengan kebijakan strategis dan taktis, seperti tingkat harga, struktur diskon, syarat pembayaran, dan tingkat diskriminasi harga di antara berbagai kelompok pelanggan. Pada umumnya, aspek-aspek ini mirip dengan yang biasa dijumpai pemasar barang.
c. Promotion, bauran promosi tradisional meliputi berbagai metode untuk mengomunikasikan manfaat jasa kepada pelanggan potensial dan aktual. Metode-metode bauran promosi tersebut secara garis besar sama untuk barang.
d. Place, keputusan distribusi menyangkut kemudahan akses terhadap jasa bagi para pelanggan potensial. Keputusan ini termasuk keputusan lokasi fisik.
e. People, bila produksi dapat dipisahkan dengan konsumsi, sebagaimana dijumpai dalam kebanyakan kasus pemasaran barang manufaktur, pihak manajemen biasanya dapat mengurangi pengaruh langsung sumber daya manusia terhadap output akhir yang diterima pelanggan. Di lain pihak, dalam industri jasa, setiap orang merupakan ‘part-time marketer’ yang tindakan dan perilakunya memiliki dampak langsung pada output yang diterima pelanggan.
f. Physical Evidence, dalam menawarkan jasa untuk dapat dinilai calon konsumen sebelum mengonsumsinya, diperlukan bukti fisik dari karakteristik jasa tersebut. Bukti fisik ini bisa dalam berbagai bentuk, misalnya brosur paket liburan yang atraktif dan memuat foto lokasi liburan dan tempat menginap; seragam pilot dan pramugari yang mencerminkan kompetensi mereka, dan lain-lain
g. Process, dalam bisnis jasa, manajemen pemasaran dan manajemen operasi terkait erat dan sulit dibedakan dengan tegas. Pelanggan restoran, misalnya, sangat terpengaruh oleh cara staf melayani mereka dan lamanya menunggu selama proses produksi.
h. Customer Service, dalam sektor jasa, layanan pelanggan dapat diartikan sebagai kualitas total jasa yang dipersepsikan oleh pelanggan. Oleh sebab itu, tanggung jawab atas unsur bauran pemasaran ini tidak bisa diisolasi hanya pada departemen layanan pelanggan, tetapi menjadi perhatian dan tanggungjawab semua personel produksi, baik yang dipekerjakan oleh organisasi jasa maupun oleh pemasok.
Forrester research (2009) menyatakan faktor-faktor yang paling penting yang menyebabkan pelanggan seluler berpindah adalah :
1. Pindah tetapi tidak menyatakan pilihan provider.
2. Pindah untuk mencari handphone yang lain.
3. Pindah pada provider teman atau keluarga.
4. Pindah untuk memperoleh nilai yang lebih baik.
5. Pindah untuk layanan yang lebih baik.
6. Pindah untuk alasan lainnya.
7. Hanya memiliki provider yang ada sekarang.
Pengembangan suatu produk atau jasa melibatkan penentuan manfaat yang akan diberikan, manfaat ini dikomunikasikan dan diserahkan.
Atribut produk menurut Kotler (2006:354):
1. Kualitas Produk (product quality)
Kualitas adalah salah satu alat pertama untuk positioning, menetapkan posisi bagi pasar. Kualitas produk mempunyai dua dimensi yaitu tingkat dan konsistensi.
2. Fitur produk
Sebuah produk dapat ditawarkan dengan beraneka macam fitur. Fitur adalah alat bersaing untuk membedakan produk pesaing. Menjadi produsen pertama yang mengenalkan fitur baru yang dibutuhkan dan bernilai adalah salah satu cara yang paling efektif untuk bersaing.
3. Rancangan
Rancangan adalah konsep yang lebih luas dibandingkan gaya. Gaya hanya menguraikan penampilan produk. Rancangan yang baik dapat menarik perhatian, meningkatkan kinerja produk, mengurangi biaya produk dan memberi keunggulan bersaing yang kuat di pasar sasaran.
Post a Comment
Post a Comment